“setiap manusia, adalah pejuang dalam artinya masing-masing”
Akhirnya setelah lama nggak nulis, tiba-tiba kepingin banget nulis lagi. Satu hari sebelum 17 agustus kemarin, aku seharian hampir seperti gangsing kesana kemari. Pagi-pagi harus cus segera MCU mungkin 50 orang dalam waktu 2 jam-an sembari koordinasi dan telfon sana sini. Siangnya cus sebagai marketing untuk mengajak PKS… usai pulang kerja… aku pulang ke rumah, OTW dari cibubur naik busway ke blok M… kebayang jauh dan macetnya… sengaja HP aku habisin batrainya, sembari disepanjang jalan merefleksikan dan mengamati semua yang terjadi disekitarku kala itu.
Ada seseorang yang mengambil alih perhatianku kala itu. Seorang pramusapa yang selalu sigap menjawab semua pertanyaan orang-orang. Tanpa marah, tanpa Lelah. “mas, mau ke ciledug. Lewat mana?” “mas mau ke fatmawati transit dimana?” dan lain sebagainya. Jika ada penyandang disabilitas, dengan sigap segera ia bantu naik ke atas bis. Dalam hatiku, rasanya pasti capek seharian berdiri dan menjawab semua pertanyaan yang ada. Belum lagi kalau ada drama he… he..he
Disamping pramusapa, duduk seorang wanita lanjut usia, kebingungan bagaimana caranya ke ciledug, seorang wanita yang disebrangnya. Dengan sigap membantu nenek “bareng sama saya aja nek. Saya juga kesitu” sepanjang jalan mereka berdua mengobrol dan tertawa. Sempat kulihat sedikit keterbatasan pada perempuan itu, tapi ketika ia membantu dan mengobrol dengan nenek tadi, kecantikannya sangat terpancar. Senyum tulusnya kala itu benar-benar membuatku terpesona hingga tidak sadar ikut tersenyum melihat mereka.
Dan hari ini… aku seorang anak dengan orang tua berlebih XIXI (orang tua yang telah berpisah dan masing masing telah menikah kembali) merasakan lucunya kejadian sore ini, sore ini selepas bermain dengan ibu dan ayah sambungku, kami memasak makanan untuk makan sore dirumah lama ku. Qadarullah ayah dan ibu sambungku juga datang kerumah dan sudah belanja serta ingin memasak makanan juga untuk kita. Alhasil kami makan masakan kami dengan ibu (ibu kandung) dan malamnya makan Kembali masakan ayah (ayah kandung). Sebetulnya perut kami (re: aku dan adikku) sudah melendung bak hamil 7 bulan. Tapi kami saling menguatkan “nanti kita harus makan masakan ayah selahap ini juga ya”.
Tawaku dalam hati, hari ini kita juga berjuang dan menjadi pahlawan. Pahlawan untuk menyenangkan hati orang tua kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar